Postingan

Dua Kabar Gembira

Alhamdulillah  Tak ada nikmat Tuhan yang perlu kudustakan Atas terjawabnya pinta yang pernah kuinginkan Atas terkabulnya doa yang pernah kupanjatkan   Di antara salah satunya Baru sebuah puisi Sepucuk karya atas sebuah prestasi Yang bisa aku cipta Sebagai bukti lolosnya sebuah perjuangan Menyisihkan hampir duaribuan karya Dari para penulis lainnya Satu kabar lainnya Jagoanku kembali diterima kerja Pada sebuah instansi Sebuah hasratku yang pernah tersimpan rapi Magelang, 2 Februari 2022

Takdir yang Kembali

Dulu awal mula Detik waktu membiarkan kami sering berjumpa Kemudian takdir menghapuskan jejak dirinya Menghilangkan bayangannya Lebih dari ratusan kali purnama berputar Beredar dalam diam dan samar Tak sekelumit pun menyebutkan namanya Tidak pula membawakan pesan darinya Kuanggap ia hilang Ditelan suara alam Terlimbung angin yang menerpa Hingga tak kan kembali ke tanah yang pernah disinggahinya Nyatanya takdir mewartakannya kembali Lewat tanda yang abadi Tiada raib dalam memori Hingga sua tercipta beberapa kali Hanya keajaiban Ilahi Tanpa bisa dipungkiri Barangkali karena pernah terucap sebuah pinta Dalam doa yang sudah terlupa

Saat Rindu Menyapa

Hujan masih deras mengucurkan airnya. Azan Asar sudah berkumandang. Dita masih menikmati rebahannya. Badannya belum fit benar, setelah hampir dua minggu mreiang menghampirinya.  Awalnya ia hanya merasakan batuk seperti biasa, namun lama-lama perutnya pun juga ikut terasa sakit. Ia berusaha mengobati dengan obat tradisional. Sejak dulu ia memang tak begitu suka berobat ke dokter kalau memang tidak terpaksa dan butuh penanganan serius.  Pada saat seperti itu, mendadak ia tadi teringat kepada almarhumah nenek dan ibunya. Dahulu, setiap ia sakit, pastilah nenek atau ibunya akan selalu memijat dengan penuh kasih sayang. Pijatan  yang beda rasanya dengan tukang pijat yang  pernah Dita rasakan. Namun sekarang, pijatan mereka tak bisa ia rasakan lagi, hanya tinggal kenangan yang menyisakan kerinduan teramat dalam, sebab keduanya telah tiada. Tak dipungkiri memang, bagi Dita, kedua sosok itersebut telah begitu banyak mengukir cerita dalam kehidupannya. Masih kental dalam inga...

Hujan

Hujan Kau adalah rindu Yang tertahan musim sewindu  Meluruh dalam kuyup Riuh gemericikmu Adalah nyanyian syahdu Yang menggema tak lekang oleh waktu Bersama rinai menawar sendu Deras kucur rintiknya Menghalau gundah yang tak kentara Menanti hadirnya seucap kata Pengobat hilangnya sekeping rasa Kaurangkum semua makna rasa Pada sepenggal episode kehidupan Melupa perihnya kehilangan Mematuk keabadian kenangan Membingkai cinta yang tak sampai Karena terbentang selembar tirai Kamu adalah ruh jiwaku hingga tetap membumi Bersama detik waktu berganti Kau adalah nafas Indikasi kehidupan yang kembali Optimis menyemai harap yang sempat terempas #Event #Ekra10

Kekonyolan

Konyol? Kurang kerjaan? Mungkin. Dan kurasa, kekonyolan ini adalah salah satu takdir yang tak lepas dari kehendak-Nya. Tentang sebuah kegagalan. Kecewa? Sedikit saja tak perlu banyak-banyak. Cukup senyumin dan syukurin. Eh ... Syukur maksudnya.  Aku  berhasil menertawai kekonyolan ini demi menimpuk kenangan. Aku merasa ada sebuah kebohongan. Entah benar atau tidaknya. Tapi aku puas. Setidaknya ketika masih bisa berkata-kata.  Hujan telah mengabadikan kamuflase luka dengan mencurahkan deras rinainya. Kemacetan telah menahan langkah kaki agar tak menyusul jejaknya. Dan ternyata rewelnya sepeda motor adalah sinyal bahwa aku memang harus berhenti. Menitipkan sejenak pada sebuah tempat tak asing, yang sering disinggahi.  Dan pada akhirnya aku harus diam menunggu, terbelenggu hujan selama hampir dua jam. Meski ada segelas teh hangat yang disuguhkan namun tetap saja dingin yang kurasakan. Aku tahu, pembohong itu ada di dalam. Keberadaannya kurasa tak jauh dari tempatku sing...

Nopember

Bismillaah ...  Kuawali langkahku di bulan ini Dengan membuang semua kenangan Yang tertinggal di bulan Oktober Bulan kebahagiaan Sekaligus bulan kepedihan Bersama hujan di awal bulan Kuharapkan tercipta cerita indah Pada waktu-waktu yang akan datang Tanpa sesak tulisan penuh bualan Segala rasa dan kenangan di bulan lalu Kan kuhempaskan dari hatiku Agar sedih segera berlalu Menyaksikan kehilangan sesuatu

Belajar Ikhlas

"Usia kita sudah semakin tua. Kalau aku sayang kamu, berarti aku harus selamatkan akhiratmu. " "Dahlah gak usah dipikirkan kata-kata itu. Sudah masanya kita pikirkan alam yang akan datang. Kita tetap bersaudara. " Kalimat-kalimat itu masih saja terngiang di telinga Dita. Ada pertarungan rasa yang berkecamuk memenuhi dadanya. Antara bersyukur, senang dan juga sedih. Bersyukur karena kalimat yang menyiratkan perpisahan itu menuju kebaikan. Senang karena Fatan masih mau bersaudara. Namun juga sedih karena  berarti antara mereka  harus melepaskan segala rasa yang selama ini telah mereka rangkum bersama. Apa boleh buat. Barangkali memang harus seperti itu kehendak takdir untuk kembali memisahkan mereka, bukan hanya dengan jarak, tetapi juga dengan rasa. Berat? Jelas. Bagi Dita, untuk melupakan dan membuang semua yang telah mereka rangkai tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Dia harus kembali berjuang dan terus berjuang dengan keras. Liku-liku luka dan jatuh bang...